CERPEN ISLAMI



BISMILLAH AKU MENCINTAIMU

By:Afif Zain






Jika jodoh tidak akan pernah lari kemana
Maka kenapa harus bersedih hati?
Yakinlah akan keputusan tuhan
Semuanya tidak akan menyalahi keadaan
(Delan Saputra)







Malam itu suara bising menggema di balik jendela selatan masjid, suara santri membaca asma Allah gemuruh, mereka membaca kalam suci-Nya setiap waktu shalat tiba. Suasana ini begitu nyaman, asri, sejuk, indah dan damai bagiku. Suasana yang tak kujumpai dimana pun itu. Kecuali di pesantren. Ya, itu suasana pesantren. Suasana baru yang tak ada sebelumnya. Disinilah semoga aku bisa membentuk jati diriku.
Sungguh aku tak percaya aku bisa berada disini sebagai santri. Bukan karena paksaan dari orang tua seperti kebanyakan yang terjadi. Melainkan murni karena keinginanku sendiri. Walau sempat ditentang orang tua karena beberapa alasan, hatiku tetap yaqin untuk menjadi santri yang insyaallah semata-mata mengharap ilmu yang beermanfaat dan juga mengharap Ridho Ilahi.
 “Alhamdulillah. terima kasih atas nikmat yang indah ini Ya Allah,” ucapku lirih seraya mencium lekukan kedua tanganku.
 “Zahrah?” Tanya seorang gadis cantik, berjilbab rapi. sepertinya dia santri pesantren ini.
 “Iya ukhti,” Jawabku dengan menganggukkan kepala, di hadapan gadis brjilbab itulah senyum pertamaku dipesantren tersungging.
“Saya Aisyah, saya diutus Neng Dila untuk mengantarmu bertemu beliau.”
“Neng Dila?” Tanyaku.
 “Iya, beliau istri dari pengasuh dipesantren ini.”
“Masya Allah. maaf ukhti, saya belum tau” Aku berjalan menjelajahi surau-surau pesantren, sambil lalu agak sedikit canggung karena belum tau daerah-daerah pesantren, sambil memegang tangannya akupun mengikuti ukhti Aisyah.
 “Assalamu’alaikum neng.”
“Wa’alaikum salam. Duduk sini, di samping saya, ” Jawab wanita yang aku rasa beliaulah yang aisyah tuturkan tadi. Pasti Neng Dila. Terlihat sangat wibawa sekali beliau.
“Neng, ini Zahrah,” Ucap ukhti Aisyah sambil menunjuk ke arahku. Aku tersenyum dan segera mencium tangan beliau yang memang benar Neng Dila, istri dari kyai di pesantren ini, wajahnya putih bersinar, ditangannya sebuah tasbih agak kekuningan terus diputarnya. Diantara dzikirnya beliau menyapaku dengan begitu lembutnya. Beliau sedikit memujiku.
 “Masya Allah cantik sekali kamu nak, ” lirihnya.
“Terimaksih Neng,” Jawabku tersenyum malu. Sesekali ia menimpali dauhnya dengan mengenalkan dua santrinya yang sudah lama tinggal di pesantren ini.
“Zahra! ini Nisa, dan ini  Ila. Ila ini sudah cukup lama nyantri di sini, jika ada sesuatu tanyakan saja padanya ya.”
“Terus kalian berdua biar Zahrah tinggal di kamar kalian saja ya nak. zahra baru pertama kali mondok,  jadi neng minta tolong bantu Zahra untuk mengenal Pesantren ini mulai dari peraturan-peraturan yang kecil hingga peraturan yang besar.” dawuh beliau lagi, pandangan matanya mengarah pada Ila dan Nisa
“Baik Neng, InsyaAllah” Jawab ukhti Ila sambil tersenyum kepadaku. Dengan sangat senang sekali aku membalas senyum saudara baruku itu.
****
Kisah baru dalam catatan hidupku akan termulai.  Kisah baru yang insyaallah akan sangat menyenangkan. di pesantren inilah kebahagiaan, canda tawa seolah menjadi bumbu sedap perjalanan hariku yang baru aku mulai.
“ Zahrah, ini kamar kita. Di kamar ini hanya kita berdua. Kamu tau kan, ini bukan pesantren besar. Di pesantren ini hanya ada 28 kamar dan setiap kamar hanya diisi dengan 7 santri saja.” Ungkap Ila, sambil menjelaskan kepadaku. Kulihat sekeliling isi kamar. Tanpak rapi sekali, pasti ukhti-ukhtiku itu adalah orang suka dengan kebersihan. Benar! Ada tulisan Annadlofatu Minal Iman di dinding kamarnya. 
“Loh Nisa mana ukhti?” tanyaku heran,
 “Ukhti Nisa ada di kamar sebelah, dekat dengan kamarnya neng Dila”
 “ooo.... iya, iya”
             “Lalu kenapa hanya Ukhti Ila yang tinggal sendiri?” Tanyaku menimpali ukhti Ila.
“Sebenarnya kamar ini khusus untuk santri senior. Dulu di kamar ini malah lebih dari 5 santri. Tapi seiringnya waktu, mereka meninggalkan pesantren, karena mereka harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga atau istri sholehah.  Mereka semua telah menikah Zahra.” Terang tetur ukhti Ila kepadaku.
“Kalau ukhti, kapan nikahnya?” Candaku, sambil meletakkan pakaian ke lemari. Ukhti Ila tersenyum tersipu malu
“Ukhti Masih sekolah Zahra. Ukhti juga masih ingin melanjutkan sekolah kelak, ukhti masih ingin mengejar cita-cita. Ya, do’akan saja lah.” Jawab Ukhti Ila dengan senyum manis. Pasti itulah cirihasnya. Ukhti Ila memang gadis yang baik. orangnya centil dan yang pasti dia serius,  Dia mudah sekali untuk akrab denganku.
Aku bersyukur, hari pertamaku di pesantren sudah mendapatkan sahabat sekaligus sosok kakak yang sungguh baik sempurna bagiku. Hari-hariku di pesantren terasa indah. Saat ini aku duduk di kelas 1 Aliyah program khusus. Atau yang biasa dikenal dengan istIlah MA PK. Karena aku tergolong baru dengan ilmu-ilmu pesantren, aku cukup kesulitan dalam mempelajari kitab-kitab yang notabennya menggunakan bahasa arab. Aku sedikit kaku, apalagi harus membacanya, melihat saja sudah ga’ kuat pusingnya. Tapi Alhamdulillah, ukhti Ila selalu membantu ketika aku kesulitan dalam mempelajari sesuatu, termasuk kitab-kitab itu. Ukhti Ila orangnya rajin dan pengertian.
Dia dewasa banget bersitku dalam hati sambil melihat wajahnya yang anggun di hadapanku,dia seniorku, saat ini dia duduk di kelas 3 aliyah program khusus MA PK . Dia cukup pintar di pesantren ini. Banyak prestasi-prestasi yang ia peroleh. Selain itu ukhti Ila juga baik sekali denganku. Ia yang selalu memberi semangat untukku ketika aku merasa lelah dengan kegiatan-kegiatan pesantren, ia juga yang selalu menghiburku ketika aku rindu dengan keluargaku. Sungguh aku beruntung telah mengenalnya, jauh melebihi saudarakandungku.
****
 Hari ini hari jum’at. Hari dimana setiap pesantren umumnya tidak ada kegiatan atau dikenal dengan istilah “Yaumul Uthlah”. Seperti umumnya, madrasah libur. Kegiatan pesantrenpun baru dimulai pada malam sabtu. Biasanya waktu lenggang ini digunakan para santri untuk beberapa hal. Diantaranya, ada yang belajar, ada yang mengaji, ada yang mencuci dan bahkan ada yang memanfaatkan waktunya untuk tidur sambil lalu menunggu kiriman.
“Pakaian sudah ku cuci, belajar sudah, mengajipun sudah. Lalu aku harus apa ya?” Gumamku sambil mencari kesibukan. Aku memang orang yang tidak bisa untuk tidak melakukan sesuatu. Karenanya aku selalu ingin mencari sesuatu untuk menyibukanku, aku beranjak mendekati rak buku, satu persatu dari sekian banyak buku ku cari, akhirnya aku  menemukan satu buah novel. Di cover bagian luar ada promosi penerbit  nantikan kehadiran novel terbaru kitab kuning. Sempat kubuka-buka lembarannya.
“Ah! buku ini semoga bermanfaat untukku baca” bersitku dalam hati,  sesaat ku menoleh ke jendela utara. Terlihat ukhti Ila berjalan di depan pintu. Kutaruh dulu novel yang hanya aku sempat baca nama pengarang dan sinopsisnya.
“Ukhti….! ”
“Ada apa Zahra.?
“Ukhti mau kemana?”
“Mau membantu Neng Dila menyiapkan tasyakuran untuk putra bungsungnya yang baru datang dari Al-azhar ”
 “Putra beliau kuliah ta?.”
“Iya, baru aja dating.
“Zahra boleh ikut ndak ukhti?” Tanyaku dengan penuh harap.
“Zahra, kamu masih baru, ndak enak nanti kalau menyuruhmu, awas nanti malah gag kerasan loh,” sambil mengejekku ukhti ila tersenyum dengan senyum khasnya
“Sudahlah ukhti. Ayo!” kutarik tangan ukhti Ila untuk bergegas menuju dalem Neng Dila
“Assalamu’alaikum Neng” sapa salamku pada beliau di tengah-tengah pintu dapur.
 “Wa’alaikumsalam. Eh! Kalian, ada perlu apa?”  Tanya neng Dila kepada kami.
“jika diperkenankan, Ila ingin ikut bantu-bantu neng!” suara ukhti Ila. Kepalanya merunduk takdzim.
“Zahra juga neng. Ketepatan sedang tidak ada kesibukan neng”
 “Tapi zahra……..!”
 “Zahra tidak apa Neng” Rayuku
“Baiklah. Ayo masuk ” Neng Dilapun menyetujui. Aku dan ukhti Ila masuk ke dalam dalem neng Dila. Rupanya bukan Cuma kami berdua yang ikut bantu-bantu di dalam dapur. Ada beberapa santri yang Nampak begitu sibuk dengan beragam tugas-tugas dapur.
“Zahra, tolong buatkan minuman untuk semua yang disini ya nak. Tapi, kamu buatnya di Dapur  sebelah. Soalnya gula dan tehnya ada disana,”Ucap Neng Dila sambil menunjuk ke salah satu ruangan agak sedikit besar yang bertepatan di sebelah timur dapur pesantren.
“Baik neng” Jawabku dengan semangat.
di dapur, aku langsung memasak air dan menyiapkan beberapa gelas.
“Dimana ya?” Lirihku sambil membuka pintu-pintu lemari yang ada, sangat lancang sekali aku membuka-buka lemari ini, tapi apa boleh buat maksud hati ingin membantu neng Dila.
“Cari apa ukhti?” Suara itu terdengar jelas dari arah belakangku. Aku berbalik untuk melihat siapa yang menanyaiku.
“Subhanallah! tampan sekali, siapa pemuda ini?” ucap kagumku dalam hati. Seolah tak kupercayai jika sosok itu adalah sosok manusia.  ya....! seprti sosok malaikat layaknya cerita dalam Al Qur’an ketika siti sulaikho melihat Nabi Yusuf.
“Cari apa ukhti?” Tanya pemuda itu kembali
“Astagfirullah!” kubuang tegunku
“ma….ma…maaf, saya mencari gula dan teh,” Jawabku gugup.
“Oh..! itu di lemari sana” pemuda itu menunjuk ke arah lemari di depan TV.
“Baik, terimakasih.”
“Afwan” hanya kalimat itu yang kudengar,  lalu Pemuda itu keluar meninggalkan dapur. Hatiku bergetar layaknya genderang yang ditabuh oleh kebanyakan pujangga dengan irama sahdu. Pikiriran digorogoti oleh perasaan asing yang tak pernah tercipta ketika aku melihat pemuda-pemuda pada biasanya.
“Subhanallah! sungguh indah ciptaanMu yaRobb,” gumamku dalam hati kecilku. sedikit imajinasiku hendak merangkai kata indah untuk sosok pemuda yang menakjubkan itu. 
“Brakk……” suara jendela yang tertutup keras karna dorongan angin, mengangetkanku.
“Astagfirullah ! Ampuni hamba Ya Allah!” Segera kuselesaikan tugasku. Aku tidak boleh berhayal.
“Neng ini minumannya” ku suguhkan 10 cangkir teh hangat di hadapan neng Dila.
 “Terimakasih ya nak. Ayo anak-anak diminum dulu” Kata neng sambil memerintah santri yang membantu untuk beristirahat sejenak dengan meminum teh yang kubuatkan.
 Selesai membantu neng Dila, kami para santri kembali ke kamar masing-masing untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Rutinitas pesantren telah dimulai. Namun ada yang berbeda pada rutinitas malam ini. Ba’da isya’ yang biasa diisi dengan pengajian kitab kuning kini menjadi pengajian akbar dan acara tasyakuran untuk putra bungsu Pengasuh kyai Nawawi. Diawal sebelum acara dimulai, Kyai Nawawi memperkenalkan putranya di hadapan para santri. Aku duduk di shaf putri paling depan.
“Subhanallah!  Pemuda itu kan yang tadi di dapur?” Lirihku pelan
 “Ukhti beliaukah putra kyai yang kata ukhti baru datang dari al-Azhar?” Tanyaku kepada ukhti Ila yang berada di sampingku. 
“Iya Zahra. Kenapa tampan ya?” ukhti Ila tersenyum.
“Iya Ukhti. Subhanallah! Tampan sekali.  Seperti ada aura keimanan yang begitu dalam di wajahnya. Sungguh beruntung Kyai Nawawi dan Neng Dila ya ukhti.” Tuturku dalam rasa kagum.
“Yang lebih beruntung nanti adalah istrinya Zahrah”. Ucap ukhti Ila.
 “Benar katamu ukhti,”
 “terus dia pemuda yang berakhlak baik. Kamu tau nggak Zahra, dia juga Hafidz Qur’an, alim tafsir, dan kabarnya beliau juga sebagai ketua persatuan organisasi mahasiswa INDO di Saudi.”
 “Subhanallah! Ukhti serius?” Tanyaku penasaran.
“Iya Zahra. Namanya Rahman  Al Fathoni, di panggil Toni, Dia lulusan terbaik Cairo. Banyak sudah yang menawarkan pekerjaan untuknya. Dan gaji yang ditawarkan tak tanggung-tanggung hingga puluhan juta per bulan. Tapi raden Toni orang yang berbeda. Dia lebih memilih meneruskan perjuangan abahnya untuk pesantren ini” Jelas ukhti Ila panjang.
“Ya Allah siapa gerangan perempuan istimewa yang akan dinikahinya” gumamku dalam hati, ku geserkan tubuhku mendekati tubuhnya ukhti ila.
“Ukhti ila, Zahrah rasa Zahra mencintainya” Mendengar pernyataanku yang begitu lugu, ukhti ila terkejut. Ia menatapku tajam.
“Kenapa ukhti?” Tanyaku diantara tatapan ukhti ila yang terlihat tegang.
“Astagfirullah…! maaf Zahra, dak pa- apa kok.” Jawab ukhti Ila. Seketika dia langsung memalingkan wajahnya. Entah apa yang terjadi pada saat itu. Atau memang ada yang salah dengan tutur kataku tadi. Kalaupun iya, aku tidak berhak menyalahkanku. Sebab ucapan itu keluar seperti tanpa aku sadari. Pada saat itu aku hanya dapat berprasangka baik terhadap Allah, terhadap perasaanku dan terhadap ukhti Ila.
Semenjak setelah acara tasyakkuran itu. Aku sering sekali bertanya kepada ukhti Ila mengenai Raden Toni. Aku tahu ukhti ila sangat akrab sekali dengan beliau. Wajarlah ukhti ila memang sudah lama nyantri di sini. Itu sebabnya Ukhti Ila akrab sekali dengan keluarga Kyai Nawawi. Ukhti Ila tau betul sifat-sifat yang dimiliki Ra Toni pun denganku, sudah banyak informasi yang kutahu mengenai raden Toni dari ukhti Ila sekarang.
Hampir setiap hari aku membicarakan Raden Toni. Dari semua cerita-cerita ukhti Ila rasa kagumku semakin bertambah. Raden Toni kini menjadi guru materi Bahasa Arab dan Balaghah di kelasku. Sungguh aku bahagia sekali, dengan demikian aku bisa sering-sering melihat sosok dambaan yang sebenarnya aku masih belum pasti dimana rasaku dan apa tanggapan Raden terhadap rasa yang dengan kuat kuyakini itu adalah cinta. Mengetahui gayaku yang semakin menjadi-jadi ukhti Ila sering berpesan kepadaku, agar jangan sampai hawa nafsu menguasai diriku. Dan juga pesannya kepadaku, nafsu yang menjelma menjadi cinta itu tidak akan membawaku pada anungrah agung allah yang sejati.
Ternyata raden Toni adalah seorang yang mudah akrab dengan siapa saja, termasuk aku. Semakin hari aku semakin akrab  saja dengan beliau. Sangat mengasikkan sekali. Aku tidak pernah lupa untuk menceritakan setiap momen-momen kebersamaanku dengan beliau kepada ukhti Ila. Setiap aku bercerita, ukhti Tadak pernah lupa menasehatiku agar aku tidak terlalu terlena dengan apa yang kurasakan ini. Aku memaham betul apa maksud ukhti Ila, mungkin sebagai teman sekaligus saudariku  dia tidak mau jika nanti ada sesuatu yang tidak teringinkan malah membuat langkah-langkahku rapuh. Karena sempat aku dengar nasehatnya begini “jangan terlalu mendambakan seseorang, pula jangan juga sampai terlalu membenci atau tidak mengharapkan kehadirannya, karena setiap perjalan kita masih sangat bergantung pada takdir Allah”  sangat bijaksana sekali ukhti jika member nasehat.
*****
 Hari demi hari berlalu, keberadaanku di pesantren terasa sangat menyenangkan, aku betah sekali bahkan sedikitpun aku tidak punya niat untuk pulang. Tak terasa ujian kenaikan sudah dekat. Semua santri disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar. Tak terkecuali aku dan ukhti Ila. Disela-sela kami belajar, aku menanyakan sesuatu kepada ukhti Ila
“Ukhti, setelah lulus mau kemana? ”
“Entahlah Za, mungkin ukhti akan meneruskan kuliah di sumenep, biar dak begitu jauh-jauh dari rumah uhkti,” Jawab Ukhti Ila. Sejenak kututup dulu kitabku
 “Berarti Ukhti akan meninggalkan pesantren ini? ukhti akan meninggalkan zahra? Ukhti akan meninggalkan semuanya?” tanyaku seperti tidak terima mendengar tutur ukhti itu. Butiran bening dari bola mataku mulai menetes. Tidak tahu kenapa perasaanku sangat berat sekali. Ukhti Ila beranjak dari meja belajarnya menuju tempatku menangis, kemudian langsung memelukku erat. Ukhti Ila juga terlihat menangis saat memelukku.
“Zahra yang sabar ya, kita pasti ketemu lagi,” perlahan ukhti ila mengangkat wajahku sambil menasehatiku.
“Kalau ukhti meninggalkan pesantren ini, Zahra dengan siapa ukhti? Selama ini Ukhti yang selalu ada buat Zahra, Ukhti yang selalu semangatin Zahra, Uhkti yang mengerti Zahra. Zahra dengan siapa Ukhti? Dengan siapa?”
“Istigfar Zahra ya! kamu jangan salah. Allah yang selalu ada bersama Zahra. Disini juga ada neng Dila, raden Toni dan santri-santri lain yang juga sayang sama Zahra sama seperti ukhti” Jawab ukhti Ila sambil mengusap air mataku.
“Astagfirullah! maafkan zahra ukhti. Zahra hanya tidak ingin kehilangan sosok kakak seperti Ukhti”
“Zahra tidak akan pernah kehilangan Ukhti, jika ukhti selalu Zahra sebut dalam setiap do’a Zahra. Maka yakinlah hati kita akan terus saling bertautan.  Zahra dak akan pernah hilang dari hati ukhti, karna Insyaallah dalam setiap do’a ukhti selalu ada nama Zahra. Kita serahkan semua pada Allah. Karena DIA’lah yang sebenarnya maha memiliki. Meliliki zahra dan memiliki ukhti. Jadi, sudah ya nangisnya,” Ucap Ukhti Ila menenangkanku. Ukhti Ila menyuruhku segera beristirahat, karna hari memang sudah larut malam, agar ujian besok berjalan lancar. Malam ini merupakan malam yang penuh makna bagiku. Dimana indahnya rasa saling memiliki sangat aku rasakan saat itu. Waktu subuh hampir tiba, ku lihat arloji kecilku. jarum jam tertuju pada angka 03:00, secepatnya aku beranjak dari tempat tidurku langsung menuju ke kamar mandi. Sesaat kemuadian aku mengambil wuduk dan bergegas  menuju ke musholla putri untuk melaksakan sholat Tahajjud. Setelah selesai sholat enam rakaat tahajjud ku angkat tanganku dengan keihsanan yang begitu upaya, dihadapan Robbku. dalam. Aku sadar aku sedang bersimpuh rapuh, tanpa daya, tanpa  
“Sungguh besar Nikmat-Mu, yang telah melebihi dari segalanya. Rasanya tak pantas ku menerimanya Jika ku ingat dosa-dosaku kepada-MU Namun ku tahu Kau Maha Pengasih Ku tahu KAU Maha Pemurah dengan Arrahman-Mu Maka, Tetapkan Iman di Jiwaku Tetapkan Taqwa di ragaku Jangan biarkan kekufuran menguasaiku Dan biarkan aku menjadi hamba yang selalu bersyukur kepada-MU Bersyukur atas semua yang KAU beri untukku, jadikan aku termasuk hambamu yang husnul khatimah ya robbbb............”
*****
Ujianpun telah selesai. para santri termasuk aku sedikit lega dengan berakhirnya ujian kenaikan kelas ini. Usaha demi usaha telah kami maksimalkan, dan hanya tawwakal yang dapat kami lakukan saat ini. Memasrahkan semua hasil usaha kepada Allah Swt. Karena hanya DIA lah yang yang maha segalanya, maha tau dan maha bijaksana.
Satu minggu ujian berlalu detik-detik kenaikan kelas mulai terasa. Sebentar lagi hasil ujian kami akan diberikan dalam bentuk raport. Ku lihat papan pengumuman, “semua murid yang sudah mengikuti ujian di harap berkumpul di aula serbaguna”  setelah membaca pengumuman aku bergegas mendatangi aula serbagun, satu persatu nama teman-temanku di panggil dan akhirnya sampai juga ke panggilan namaku
“Zahratul Mirza.”
 “ iya ustad ada,” ku ambil raportku.  Dekdekan sekali aku menerimanya, dengan sangat pelan sekali aku membuka lembaran raportku.
“Alhamdulillah aku lulus” suaraku agak sedikit lantang. Aku bergegas menuju kamar untuk menemui ukhti Ila.
“Assalamu’alaikum ukhti...! Alhamdulillah zahra naik kelas, hasilnyapun lumayan bagus lho. Terimaksih ya ukhti, ukhti telah banyak membantu Zahra.” Ucapku sambil berjingkrak-jingkrak di hadapan ukhti Ila
“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah kalau begitu. Barakallah untuk nilai dan kenaikanmu Zahra,” Jawab ukhti Ila sambil lalu tersenyum dan meremas tanganku. kalau ukhti Ila tidak perlu diragukan lagi. Ukhti Ila lulus dengan nilai Camlaude.
“Selamat ya ukhti” Ucapku. Namun, lagi-lagi air mata ini menetes. Aku merasakan ketakutan yang amat sangat. Entah karena apa. Apakah aku takut kehilangan ukhti Ila? Ya, aku memang takut kehilangan orang yang saat ini kupeluk. Ukhti ila yang menyadari aku menangis langsung melepaskan pelukanku.
            “Zahra kenapa nangis? ” Tanya ukhti ila sambil mengusap air mata dipipiku.
             “Ukhti tidak serius meninggalkan pesantren ini kan? Ukhti tidak akan meninggalkan Zahra kan?, ukhti jangan pergi ya....!” Tanpa berkata sedikpun, ukhti ila memelukku kembali. Setelah keadaanku sedikit tenang, ukhti Ila melepas pelukannya.
“ Zahra sayang, Serahkan semua pada Allah” Ucap ukhti Ila. Lalu dia langsung berjalan keluar meninggalkanku. Aku tahu ukhti Ila juga sedih. Mungkin ukhti Ila tidak ingin menunjukkannya kepadaku, ukhti Ila tidak ingin menambah kesedihannku. Aku faham itu, karna setahun di pesantren ini cukup buatku mengenal Ukhti Ila.
Malam ini hatiku sangat gelisah, satu persatu air mataku menetes tanpa henti, Sungguh ku tak ingin melewati malam ini. Malam yang tak pernah kuharapkan sama sekali. Jika aku bisa berharap, aku lebih senang waktu pagi datang daripada waktu malam yang pada akhirnya akan mengantarkan akhir waktunya pada waktu perpisahan bukan permulaan.
Ukhti Ila ternyata sangat serius dengan keputusannya untuk meninggalkan pesantren. dia akan benar-benar meninggalkan aku. Karena itu suasana kamar bilik seperti sangat suram dan hening.
“Kenapa sepi ya?” Ucap ukhti ila,
“Ada apa sih!?” Tanya ukhti ila memecah keheninggan kamar, sambil memindahkan barang-barangnya ke tas yang akan ia bawa pulang besok.
“Gag ada apa-apa! Zahra ingin istirahat saja.” Jawabku dengan nada sedikit sinis.
“Ya sudah, selamat tidur adikku. Jangan lupa berdo’a dulu” Kalimat yang hampir setiap malam ukhti ila tuturkan kepadaku.
“Masyaallah! Mulia sekali hatimu ukhti, Dalam suasana seperti ini saja, kau mampu memberikan senyummu padaku yang tidak mau kehilanganmu,” suara hatiku pelan.
 Malam ini sulit untukku memejamkan mata. Saat kulihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 02.30.
 “krekk…. Suara pintu terbuka. Segera ku tutup mataku kembali, dan berpura-pura tidur. Aku tau itu Ukhti Ila, karena Ukhti ila memang rajin sekali untuk sholat malam, ku dengar suara lirih berisi tentang sebuah harapan. “Ya robby, Malam ini aku bersimpuh di hadapan-MU Tiada daya dan upaya selain atas izin-MU Izinkan aku berlutut menghadap-Mu Izinkan aku bermunajah serta berharap atas keutamaan-Mu Serta izinkan aku menangis karna-MU, karenamulah air mata ini di teteskan Wahai dzat yang mampu membolak-balikan hati, seandainya aku boleh berkeluh Sungguh hati ini sakit ketika melihat sahabatku sendiri mencintai orang yang juga ku Cintai Karenanya, Balikkan rasa sakit dihati ini. Jadikan rasa ini menjadi rasa ikhlas karna-MU Sungguh ku percaya takdir cintaku berada ditangan-MU
Ya Robby! aku tak kuasa menyimpan semua ini, karena menurutku diam adalah yang terbaik. Aku menyayangi Zahra melebihi sayangku kepada raden Toni walaupun terlanjur jauh kuharapkan hatiku Namun jauh takkan mengurangi rasa sayang dan cintaku terhadap-Mu. Tuhan Sungguh, ku tak sanggup menyakitinya, ku terlalu menyayanginya, Ku tak ingin melihat sedihnya, Ku tak ingin ada tangisan darinya, Jangan biarkan senyumnya berganti dengan kesedihan,dan jangan biarkan tawanya berganti menjadi tangisan Karna ku tak sanggup untuk melihatnya amin!
jantungku berdetak hebat mendengar rintihan itu. Aku sadar, aku telah melakukan kesalahan besar. Air mata tumpah menangisi teganya hati membiarkan bibir tersenyum sementara disisi lain hati lain telah mendahuluinya. Tak sanggup lagi rasanya aku ingin memeluk ukhti Ila. Segera ku beranjak dari tempat tidur mendekati ukhti Ila yang saat itu masih menenakan mukenah putihnya.
“Kenapa ukhti ndak pernah cerita? ” Tanyaku penuh sesak sesal.
“Cerita apa Zahra?” wajahnya tajam memandangi wajahku. Tapi ukhti Nampak tenang
 “Ukhti, Zahra mendengar semua do’a ukhti. Hati Zahra teriris sakit. Zahra merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Zahra sudah lama mengenal ukhti, tapi kenapa Zahra baru mengetahuinya sekarang...? Maafkan Zahra ukhti, Maafkan Zahra….” Air mata menetes di pipi putihnya, raut wajahnya seperti menampakkan peneyesalan. Pasti dia menyesal kenapa aku harus tau. Sementara rasa sedihku semakin menjadi-jadi dengan tangis yang semakin membludak
“Zahra, dengarkan Ukhti ya,” diantara air matanya ukhti tersenyum tulus.
“Selama ini ukhti sendirian. Sejak kehadiran Zahra, ukhti merasa ada yang berbeda dalam kehidupan ukhti. Ukhti merasa mempunyai teman, ukhti merasa mempunyai seorang adik dan ukhti merasa bahagia sekali. Ukhti rela melakukan apa saja asal Zahra bahagia. Karena bahagia zahra adalah bahagia ukhti” ucapnya lagi. Tanpa sepatah katapun, langsung ku peluk ukhti Ila dengan tangisku. ku dekatkan mulutku ke telinga ukhti, sambil mengeratkan pelukanku. “ YaRobi… Mungkin banyak hamba yang Kau sayang di dunia ini Karena memang Kau maha penyayang Namun saat ini, Akulah yang merasa paling Kau sayang. Kau tunjukkan rasa sayangMu dengan menghadirkan Ukhti Ila dalam hidupku. Wanita mulya yang begitu sempurna pribadinya. Berkahi hidupnya YaAllah. Berikan kemudahan disetiap langkahnya, Dan jadikan ia hamba pilihanMu yang menempati surga-Mu
Senin merupakan Pagiku yang cerah. Namun bukan cerahnya hati dan perasaanku. Sungguh hatiku ingin menjerit dan mengatakan. “Jangan pergi ukhti…! jangan pergi!” Namun pilihan ukhti ila sudah sangat bulat. Kesedihan ini tidak hanya menimpaku melainkan semua santri juga merasakannya. Ukhti Ila memang sosok yang dikagumi. Hampir semua santri kagum karena kebaikan dan kebijaksaannya. Neng Dila dan kyai Nawawi juga menyayangkan kepergian santri kesayanganya itu. Namun ini semua adalah pilihan Ukhti Ila. Hanya Allah yang dapat menghentikannya. Ila mengangkat kakinya dan memulai berjalan, hatinya sedih seakan tak kuasa ingin menumpahkan air matanya, namun ukhti ila bukanlah orang yan cengeng yang mudah nangis, ia adalah orang yang kuat yang tak mungkin menumpahkan air matanya jika air mata itu hanya akan membawa kesedihan pada orang-orang yang dia cintai.
“Kamu mau kemana Ila?”
“Raden Toni?” kata ukhti Ila terkejut.
 “Kenapa kamu tidak memberitahuku sama sekali? Apa kamu sudah lupa dengan teman kecilmu ini?” Ukhti Ila hanya terdiam dan merunduk.
“Ila! Di hadapan Aba dan  Umiku, pun juga dihadapan santri-santri di sini, serta di hadapan Allah tentunya, aku ingin mengatakan aku ingin engkau menjadi wanita yang halal bagiku. Aku ingin meminangmu karena kerendahan hatimu, karena keindahan akhlakmu, karena kehalusan tutur katamu, karena kebaikan sikapmu, dan karena kedekatanmu dengan-Nya,”  tegas sekali pernyataan raden Toni. sesaat tempat itu menjadi hambar tak ada satu suarapun mengisinya, pernyataan Ra Toni mengejutkan semua yang ada di sana termasuk aku. Kecuali Neng Dila dan Aba Nawawi yang terlihat santai dengan pernyataan yang diucapkan putranya itu. Seketika itu ukhti Ila menoleh ke arahku. Mungkin ukhti Ila mengakhawatirkan perasaanku. Tapi aku tersenyum pada ukhti Ila, pertanda aku mendukung sekali dan akan menjadi orang yang paling bahagia jika Ukhti Ila menerima pinanangan raden Toni. Ukhti Ila yang mengerti akan makna senyumannku langsung berkata.
“Sepatah kata dariku jika memang kita di takdirkan untuk bersama, insyaAllah aku bersedia, karena aku yakin rencana Allah akan indah pada Waktunya,” sesaat Ra Toni menimpalinya dengan ucapannyaa
“Ila, Bismillah Aku mencintaimu” Kalimat yang diucapkan Ukhti Ila dan Ra Toni membuat semua yang ada disana tersenyum bahagia. Ukhti Ila berlari mendekatiku, menciumku kemudian memelukku dengan tangis bahagianya.
“Syukron Zahra, rencana Allah akan indah pada Waktunya, semoga jodohmu kelak orang yang memang diimpikan yang taat kepada Tuhannya, yang tentunya menjadi hamba pilihanN-ya…”
“Amin ya roobb... terima kasih ukhti”  lirihku. Setelah terlepas dari pelukan ukhti aku tersenyum dalam rundukku. Ku bahagia sekali karena kesabaran ukhti selama ini telah Allah balas dengan impiannya mendapatkan pemuda idaman yang tampan,  Alim, Hafidz, tamatan cairo dan juga putra dari seorang pengasuh pesantren. Ya Robbi.......Sungguh indah kebesaran-MU, Ku yakin akan semua takdir-MU Termasuk jodohku, jodoh yang kau janjikan ketika aku berbentuk ari-ari dalam rahim ibundaku. Tidak ada yang tidak mungkin dalam kehendakmu.
Selesai